Selasa, 15 Desember 2009

Makrus ali wants to keep up with you on Twitter

Makrus ali wants to keep up with you on Twitter

Twitter connects you with everything you want to know, right now. Short bursts of information are readily available from news organizations, corporate entities, politicians, celebrities, local businesses - even your close friends and family. Also, if you have something to share with the world, Twitter makes it super easy. To join for free, click the link below. http://twitter.com/i/a776674ea349c6c1785de9060afb93648fcc11e1

Thanks,

@twitter

About Twitter, Inc.

Founded in 2007, Twitter Inc believes the open exchange of information can have a positive global impact. Every "Tweet" is limited to 140 characters of text or links which means they are easily written or read on a wide variety of services and devices including any mobile phone, social networks, television, Macs, PCs, and the Web.

This message was sent by a Twitter user who entered your email address. If you'd prefer not to receive emails when other people invite you to Twitter, click here: http://twitter.com/i/o?c=Slhput0DUqQxG5JSfX%2BrLIxA%2F%2BKKauwiPvKnEsQQNgk%3D

Please do not reply to this message; it was sent from an unmonitored email address. This message is a service email related to your use of Twitter. For general inquiries or to request support with your Twitter account, please visit us at Twitter Support.

Kamis, 10 Desember 2009

Yuk Ikutan Cari Uang di Internet ...!

Cari uang di Internet, caranya ...? Klik kla banner diatas kemudian ikuti langkah- langkahnya, dan jangan berfikir negatif, sudah banyak bukti kalau mereka bisa menghasilkan uang di Internet

Ok, sampai jumpa di puncak kesuksesan !!


Regard,
Makrus Ali



Senin, 07 Desember 2009

Beban Berat Bayern untuk Melenggang ke Babak 16 Besar


TURIN - Juventus dan Bayern Munchen harus melakoni laga hidup mati untuk menentukan langkah ke babak 16 besar. Juve sedikit di atas angin karena hanya butuh hasil imbang untuk lolos. Di sisi lain, beban Bayern lebih berat. Duta Jerman itu harus menang untuk melenggang ke babak berikutnya.

Tekanan untuk Bayern bertambah berat karena mereka harus bertandang ke markas Juve di Stadion Olimpico, Turin, dini hari nanti (siaran langsung RCTI pukul 02.45 WIB). Sebaliknya, posisi Juve lebih menguntungkan. Selain tampil di depan tifosi sendiri, Alessandro Del Piero dkk punya bekal penting berupa kemenangan atas Inter Milan di ajang Liga Italia Serie A Minggu lalu (6/12).

"Jika kami kalah dari Bayern, kemenangan atas Inter menjadi tidak berarti. Sebab, kami akan tersingkir dari Liga Champions. Menang atas Inter memang menyenangkan. Tapi, saya ingin lebih dari itu," ungkap arsitek Juve Ciro Ferrara kepada Tuttosport.

Pada bentrok pertama di kandang Bayern Oktober lalu, Juve menahan imbang tuan rumah tanpa gol. Tapi, hal itu tak membuat kubu Juve jemawa. Apalagi, Bayern datang dengan mengusung ambisi besar.

"Hasil seri memang sudah cukup. Tapi, kami ingin menang atas mereka. Kami merasa ada tekanan karena kami memang melakukan banyak kesalahan ketika melawan Bordeaux. Saat itu, seharusnya kami tidak kalah," bilang Claudio Marchisio, gelandang Juve, kepada Sky Sport.

Saat butuh kekuatan penuh di lini belakang, Juve terancam tidak bisa menurunkan Giorgio Chiellini untuk menemani Fabio Cannavaro di jantung pertahanan. Dia tidak berada dalam kondisi 100 persen karena cedera betis. Namun, tuan rumah masih memiliki Nicola Legrottaglie.

Di lini depan, Ferrara tidak punya masalah, meski Vincenzo Laquinta belum pulih dari cedera. Juve punya lebih banyak opsi seiring kembalinya Alessandro Del Piero dan David Trezeguet.

Jangan lupa, Juve punya catatan positif ketika menjadi tuan rumah di pentas Liga Champions. Nyonya Tua -julukan Juve- melewati 16 pertandingan tanpa kalah. "Tetap saja kami harus rendah hati dan melakukan yang terbaik," ujar Del Piero seperti dikutip Reuters.

Sementara itu, kubu Bayern menegaskan tekad tak ingin tersingkir dari Liga Champions. "Bayern bukanlah tim yang pantas tereliminasi pada babak pertama. Kami akan lakukan apa pun agar lolos," kata striker Mario Gomez seperti dilansir AFP.

Beban berat dipikul pelatih Bayern Louis van Gaal. Petinggi Bayern menginginkan tim itu lolos ke fase berikutnya. "Fase knockout adalah target kami dan semua berharap tim ini bisa mewujudkannya," tegas Karl-Heinz Rummenigge, presiden Bayern.

Jika kalah, bukan tidak mungkin posisi Van Gaal tergusur. Sebab, performa Bayern di kompetisi domestik pun tidak stabil, sekalipun sekarang bertengger di posisi empat klasemen sementara. Posisi Van Gaal bakal dievaluasi setelah Natal. (ham/ca)

Sumber: Jawapos

2010, Dana asing Akan Terus Mengalir ke Indonesia

Aset dalam Bentuk Rupiah Paling Diincar

JAKARTA - Dana asing dalam jumlah besar sepertinya akan terus mengalir ke Indonesia. Ini terkait dengan posisi Indonesia sebagai emerging market yang tetap menjadi incaran investor.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Budi Mulya mengatakan, pada 2010, negara emerging market akan kembali menjadi tujuan aliran dana dari investor global. 'Jadi, tren (aliran dana asing) ini akan berlanjut di 2010," ujarnya di Kantor BI kemarin (7/12).

Menurut Budi, kondisi likuiditas berlebih di pasar global masih akan terjadi di 2010. Likuiditas itu, kata dia, akan mencari return atau imbal hasil yang sudah dikalkulasi risikonya. Artinya, tingkat suku bunga dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih tinggi dibanding negara lain membuat Indonesia tetap menjadi favorit. "Aset dalam bentuk Rupiah akan menjadi incaran," katanya.

Aliran dana tersebut dipastikan akan berpengaruh terhadap nilai tukar Rupiah. Untuk itu, kata Budi, BI akan terus mencermati potensi volatilitas atau pergerakan nilai tukar rupiah akibat aliran dana asing, yang jika masuk ke instrumen keuangan jangka pendek berpotensi menjadi hot money.

''BI akan menjaga dan memastikan agar rupiah stabil. Sebab, kalau volatilitas tidak terkendali, itu bisa menekan bisnis dan tidak memberi confidence (kepercayaan) pelaku ekonomi,'' terangnya.

Terkait kajian untuk membatasi aliran dana asing, khususnya di instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Budi menyebut studi pembatasan tersebut merupakan hal biasa bagi bank sentral. ''Kita coba melihat impact (pengaruh) pada ekonomi makro. Kita hanya ingin pastikan untuk menjaga Rupiah,'' ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa saat ini dunia memang tengah banjir likuiditas. Ini dipicu kebijakan bank sentral AS atau The Federal Reserve yang menggelontorkan likuiditas hingga USD 2.400 triliun. ''Hati-hati pada fenomena bubble,'' katanya.

Menurut Sri Mulyani, likuiditas yang digelontorkan pemerintah AS tersebut dipastikan mengalir ke berbagai instrument investasi di banyak Negara. Meski demikian, lanjut dia, likuiditas yang melimpah ini tidak akan berlangsung selamanya. Saat ini, dengan suku bunga perbankan yang rendah, pasar saham bergairah karena banyak dana mengalir ke pasar saham. ''Tapi saya ingatkan, konsolidasi kebijakan akan mulai dilakukan pada 2010 - 2011," terangnya.

Kekhawatiran juga disampaikan Kepala Badan Pengawasan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Fuad Rahmany. Menurut dia, saat ini pasar modal memang belum bisa dikategorikan dalam kondisi bubble. "Tapi, kita memang khawatir terjadi bubble,'' ujarnya.

Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan, kepemilikan saham oleh pemodal asing pada September lalu naik menjadi 67,21 persen dibandingkan dengan porsi kepemilikan bulan sebelumnya yang masih sebesar 65,64 persen. Berdasarkan data hingga 25 September 2009, pemodal asing memiliki 765,56 triliun saham atau 67,21 persen, sedangkan pemodal domestik memegang 373,48 triliun saham atau 32,79 persen.

Sebagai perbandingan, pada 31 Agustus 2009, kepemilikan pemodal asing tercatat sebesar 65,64 persen atau 715,12 triliun saham dan pemodal domestik sebanyak 374,30 triliun saham atau 34,36 persen. (owi/fat)

Sumber: Jawapos

Ke Kopenhagen, untuk Apa?


Oleh: Suparto Wijoyo

SAAT ini Kopenhagen, Denmark, menjadi sorotan publik -environmentalist, pebisnis, developmentalist, kapitalis, maupun golongan "bunglon lingkungan". Mulai 7-18 Desember 2009, dihelat Konferensi Para Pihak Ke-15 (COP-15) PBB mengenai perubahan iklim yang diagendakan dihadiri lebih dari 190 utusan negara-negara di dunia untuk berunding mencapai kesepakatan tata dunia yang stabil secara ekologis-klimatologis dengan bingkai yuridis. Even tersebut merupakan respons lanjutan atas Bali Road Map hasil COP-13 (2007) maupun komitmen pengurangan emisi produk COP-14 di Polandia (2008).

Sejak 1992, memang istilah global warming (pemanasan global) dan climate change (perubahan iklim) menjadi kata yang menghiasi pemberitaan media dan meluncur dari jutaan mulut insan dunia. Meskipun jauh dari itu, di kampung-kampung pedalaman Indonesia, para petani dan nelayan sudah mengenalnya melalui kearifan pandum panoto mongso. Ilmu tradisional mereka sudah visioner. Mereka paham bahwa dunia rentan mengarah pada perubahan iklim.

Bahkan, kala 200 ilmuwan dunia tahun lalu mengumumkan bahwa pemanasan global merupakan akibat ulah manusia (yang juga dikutip para pejabat kita selevel menteri), orang kampung dengan cerdas mereaksi, "Telat, Pak, tidak usah 200 ilmuwan untuk tahu hal tersebut. Sebab, 15 abad lalu ada pemberitahuan bahwa kerusakan di darat dan laut disebabkan oleh perilaku manusia."

Kita semua memang khawatir mengenai dampak pemanasan global yang berkaitan dengan perubahan iklim sedunia. Karena itu, perlu kerja sama internasional untuk mereduksi efek gas rumah kaca atau greenhouse gases (GHGs). Kecenderungan naiknya emisi GHGs mengakibatkan kenaikan suhu dalam kisaran 1,3-4,5 menjadi 6 derajat Celsius di akhir abad ke_21.

Realitas tersebut memperkukuh pemahaman bahwa pemanasan global merupakan kenyataan yang mengancam keseimbangan bumi. IPCC melaporkan bahwa perubahan iklim dapat mengakibatkan seluruh bumi banjir, hasil pertanian menurun, maupun permukaan air laut naik mulai 9-88 cm.

Apakah di Kopenhagen akan ada pembenahan bagi kepentingan peri kehidupan global ataukah hanya tempat menyuarakan perubahan tanpa pembenahan? Apa artinya berubah tetapi tidak berbenah? Perubahan yang tidak berbenah adalah perubahan menuju kehancuran. Maukah negara-negara maju meminimalkan pembicaraan tentang jual beli karbon? Perundingan mengenai perdagangan emisi adalah pembualan untuk tetap membiarkan pemanasan global terjadi dengan pembicaraan yang seolah-olah (sekali lagi seolah-olah) peduli lingkungan. Munafikkah?

Banyak orang tahu dan mereka yang membincangkan jual beli emisi pun sudah tahu. The World Resources Institute (WRI) sudah lama melaporkan bahwa negara_negara industri menghasilkan lebih dari 60 persen emisi karbon dioksida dari jumlah 254,8 miliar ton dalam periode 1900-1999. Amerika Serikat mengeluarkan emisi karbon dioksida tertinggi di dunia, yakni 30,3 persen atau 77,3 miliar ton dari total emisi karbon dioksida yang dikeluarkan seluruh dunia. Rusia adalah penyumbang emisi karbon dioksida kedua terbesar, yakni 22,7 miliar ton yang setara 8,9 persen, disusul Jerman 18,6 miliar ton atau 7,3 persen dari jumlah seluruhnya.

Jepang menduduki tempat keenam dengan emisi karbon dioksida sebesar 9,4 miliar ton atau 3,7 persen dari total keluaran karbon dioksida dunia. Istilahnya sekarang, kita diminta memikul dosa negara maju. Maukah mereka mereduksi secara bermakna GHGs-nya? Maukah mereka di Kopenhagen berjanji menghentikan industri masing-masing secara periodik untuk mengurangi GHGs? Kalau tidak mau, mereka hanya membual, kan?

Pada akhirnya, kemunafikan mereka telah membawa efek domino yang besar. Kerusakan ekologis dan "dendang" klimatologis sudah membawa kerugian ekonomi yang besar. Secara matematis, kerugian jelas mencapai angka kisaran triliunan rupiah. Apabila pemanasan global terus tidak terkendali, akibat yang dirasakan Indonesia adalah tenggelamnya 4.000 pulau. Kini sudah 23 pulau tenggelam. Begitulah pemberitaan di media massa muncul dengan keluguannya. Saya ingin bertanya, berapa harga satu pulau tersebut? Apakah kita rela mengalkulasi satu pulau seharga Rp 1 triliun dikalikan 4.000. Hitunglah sendiri berapa angka rupiah yang akan muncul? Karena itu, para penguasa jangan hanya fasih berbicara pertumbuhan ekonomi di tengah-tengah pertumbuhan bencana ekologis.

Akhirnya, Kopenhagen kurang bermakna bagi negara tropis apabila dunia masih sibuk berpola pikir perdagangan karbon, jual beli emisi. Jangan sampai kita terjerumus ke dalam "selimut emisi" dunia dengan simbol paradigmatis "dagang pencemaran" atas nama cinta lingkungan. Saatnya kita bertindak dan berlomba memproduksi oksigen serta mereduksi emisi. Indonesia adalah "pabrik oksigen" dengan hutan yang luas, sedangkan negara-negara maju itu merupakan "pabrik emisi" hasil sejarah panjang revolusi industri masing-masing.

Jadi, delegasi Indonesia jangan berposisi inferior sebagai produsen GHGs model studi McKinsey, yang menempatkan Indonesia sebagai juara ketiga penyumbang emisi karbon setelah Amerika Serikat dan Tiongkok. Indonesia harus menggunakan nalar tradisi bahwa kita pemilik hutan yang besar, bukan pelaku utama revolusi industri. Maukah negara-negara maju di Kopenhagen memperkuat komitmen pencapaian titik konstan emisi era 1990? Itu sepadan dengan penghentian operasionalisasi industri di Amerika Serikat selama 60 tahun. Ah, itu hanya utopia. Bukankah negara maju hanya bisa berunding soal kuota emisi?

Dalam dimensi kini, pengurangan GHGs adalah pilihan yang memerlukan perubahan konsumsi energi secara drastis. Itu merupakan pertarungan melawan pemanasan global dan dunia harus dapat dimobilisasi untuk bertindak nyata. Sebagai pengingat, UNFCCC dan Kyoto Protocol telah mengharuskan negara maju untuk menurunkan emisi GHGs 5 persen di bawah emisi 1990 secara kolektif. Komitmen pengurangan emisi GHGs yang tertuang dalam UNFCCC dan Kyoto Protocol perlu direalisasikan secara sungguh_sungguh. Kyoto Protocol secara khusus menetapkan bahwa negara_negara yang tercantum dalam Annex I UNFCCC wajib mereduksi emisi gas rumah kaca sebesar 5 persen dalam kurun waktu lima tahun: 2008-2012.

Kopenhagen harus menyediakan landasan pacu untuk keberlanjutan protokol tersebut setelah 2012. Maukah merekah "bersumpah pocong" di Kopenhagen agar tidak terjadi "kekafiran ekologis"? (*)

*). Dr Suparto Wijoyo, dosen hukum lingkungan Universitas Airlangga