Senin, 07 Desember 2009

2010, Dana asing Akan Terus Mengalir ke Indonesia

Aset dalam Bentuk Rupiah Paling Diincar

JAKARTA - Dana asing dalam jumlah besar sepertinya akan terus mengalir ke Indonesia. Ini terkait dengan posisi Indonesia sebagai emerging market yang tetap menjadi incaran investor.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Budi Mulya mengatakan, pada 2010, negara emerging market akan kembali menjadi tujuan aliran dana dari investor global. 'Jadi, tren (aliran dana asing) ini akan berlanjut di 2010," ujarnya di Kantor BI kemarin (7/12).

Menurut Budi, kondisi likuiditas berlebih di pasar global masih akan terjadi di 2010. Likuiditas itu, kata dia, akan mencari return atau imbal hasil yang sudah dikalkulasi risikonya. Artinya, tingkat suku bunga dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih tinggi dibanding negara lain membuat Indonesia tetap menjadi favorit. "Aset dalam bentuk Rupiah akan menjadi incaran," katanya.

Aliran dana tersebut dipastikan akan berpengaruh terhadap nilai tukar Rupiah. Untuk itu, kata Budi, BI akan terus mencermati potensi volatilitas atau pergerakan nilai tukar rupiah akibat aliran dana asing, yang jika masuk ke instrumen keuangan jangka pendek berpotensi menjadi hot money.

''BI akan menjaga dan memastikan agar rupiah stabil. Sebab, kalau volatilitas tidak terkendali, itu bisa menekan bisnis dan tidak memberi confidence (kepercayaan) pelaku ekonomi,'' terangnya.

Terkait kajian untuk membatasi aliran dana asing, khususnya di instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Budi menyebut studi pembatasan tersebut merupakan hal biasa bagi bank sentral. ''Kita coba melihat impact (pengaruh) pada ekonomi makro. Kita hanya ingin pastikan untuk menjaga Rupiah,'' ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa saat ini dunia memang tengah banjir likuiditas. Ini dipicu kebijakan bank sentral AS atau The Federal Reserve yang menggelontorkan likuiditas hingga USD 2.400 triliun. ''Hati-hati pada fenomena bubble,'' katanya.

Menurut Sri Mulyani, likuiditas yang digelontorkan pemerintah AS tersebut dipastikan mengalir ke berbagai instrument investasi di banyak Negara. Meski demikian, lanjut dia, likuiditas yang melimpah ini tidak akan berlangsung selamanya. Saat ini, dengan suku bunga perbankan yang rendah, pasar saham bergairah karena banyak dana mengalir ke pasar saham. ''Tapi saya ingatkan, konsolidasi kebijakan akan mulai dilakukan pada 2010 - 2011," terangnya.

Kekhawatiran juga disampaikan Kepala Badan Pengawasan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Fuad Rahmany. Menurut dia, saat ini pasar modal memang belum bisa dikategorikan dalam kondisi bubble. "Tapi, kita memang khawatir terjadi bubble,'' ujarnya.

Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan, kepemilikan saham oleh pemodal asing pada September lalu naik menjadi 67,21 persen dibandingkan dengan porsi kepemilikan bulan sebelumnya yang masih sebesar 65,64 persen. Berdasarkan data hingga 25 September 2009, pemodal asing memiliki 765,56 triliun saham atau 67,21 persen, sedangkan pemodal domestik memegang 373,48 triliun saham atau 32,79 persen.

Sebagai perbandingan, pada 31 Agustus 2009, kepemilikan pemodal asing tercatat sebesar 65,64 persen atau 715,12 triliun saham dan pemodal domestik sebanyak 374,30 triliun saham atau 34,36 persen. (owi/fat)

Sumber: Jawapos

Tidak ada komentar:

Posting Komentar